Menikah dan Belum Dikaruniai Anak, Apakah Keluargaku Tak Sempurna?

Di bulan Juni ini, ingin mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

Aku salah satu yang percaya sama kalimat, “Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Aku tumbuh di keluarga sederhana yang menyenangkan. Bahkan beruntungnya lagi hingga aku menemukan seseorang untuk jalani hidup bersama, keadaannya tidak jauh berbeda.

Aku menjalani hidup yang bisa dibilang baik-baik saja. Tidak ada sedikit pun penyesalan atas nama keluarga di hidupku, sampai pada satu titik dimana aku akhirnya mempertanyakan itu.

Pernikahanku menginjak tahun kedua, dan aku nggak seperti banyak orang di sekitarku. Tuhan belum mempercayakan salah satu malaikatnya untuk ada di hidupku sebagai anak.

Sejujurnya keluargaku tidak begitu mempermasalahkan (paling nggak di depanku), tapi aku rasa kalian paham bahwa dunia ini akan selalu punya orang yang komentarnya tidak cuma menyebalkan tapi bisa menyakitkan. Ditanya “kapan” bukan lagi hal yang asing, malah cenderung bosan. Aku jadi membayangkan, keluarga seperti apa ya yang aku ciptakan?

Tetap Berproses Jadi Lebih Baik

Aku nggak tahu mana yang lebih sakit, antara menghadapi semua drama menjadi ibu atau nggak perlu merasakannya. Aku juganggak tau mana yang lebih baik, antara punya alasan terbaik (versi banyak orang) untuk bertahan atau mengandalkan kewarasan sendiri seadanya. Tapi aku tahu kok, aku mau menjalani itu semua andai Tuhan berbaik hati mengiyakan. Aku mau meneruskan keluarga bahagia ini, membuat anakku merasakan apa yang aku rasakan (bahkan lebih baik). 

Untuk pria yang kusebut suami, mari berdampingan lagi. Aku tahu soal yang ini nggak akan pernah jadi mudah pembawaannya, seberapapun bahagianya kita.

Terima kasih sudah jadi orangnya, ternyata memang harus sama kamu lewatin semuanya. Semoga kita tetap berproses untuk jadi lebih baik setiap harinya. Semoga yang membaca ini juga berkenan, berdoa untuk keluarga ini yang untukku (hampir) sempurna.

Author: Monica

Leave a Reply

Your email address will not be published.